Ia juga akrab dipanggil Syekh Lemang Abang. Ketinggian Ilmunya mengundang curiga. Wali-wali sepuh yang mengajarnya menyangka dia punya ilmu sihir. Padahal, yang muncul tiba-tiba dan disaksikan oleh santri-santri Giri adalah keramahannya. Tetapi, yang membuat Syekh Siti Jenar mencuat bukan semata-mata ketinggian ilmunya, melainkan praktik hidupnya yang egaliter, merasa sama dengan orang lain. Keteladanannya dalam beragama mudah diikuti orang lain. Tak heran bila setiap hari mesjid di Pesantren Lemah Abang dipenuhi orang.
Melanjutkan buku sebelumnya – Syekh Siti Jenar: Makna Kematian – buku ini bukanlah sejarah hidup Syekh Siti Jenar, melainkan ulasan ajarannya. Jika buku pertama lebih mengulas eksistensi manusia, buku ini mengupas tauhid, akhlak, dan makrifat Syekh Siti Jenar.
Tauhid yang menjadi landasan pokok dalam beragama ia ajarka hingga tuntas. Sifat 20 tidak diajarkan sebagai sifat Tuhan semata, tapi juga sifat yang disandang oleh hamba-Nya yang Mukmin. Justru di sinilah ajaran Siti Jenar lebih menarik daripada ajaran yang disampaikan oleh para wali lainnya.
BACA SELENGKAPNYA
0 komentar:
Posting Komentar